Decluttering untuk Pemula: Mulai dari Mana?

decluttering

okadakisho – Ada satu jenis barang yang hampir selalu berhasil lolos dari acara beres-beres rumah: barang yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan, tetapi kita merasa mungkin akan membutuhkannya suatu hari nanti.

Kabel charger dari ponsel yang sudah lama dijual masih tersimpan di laci. Kardus bekas elektronik tetap berdiri gagah di atas lemari. Ada pakaian yang dua tahun tidak pernah dipakai, tetapi setiap kali hendak disingkirkan muncul pikiran, “Siapa tahu nanti kepakai.”

Lalu ada hadiah, suvenir, botol minum gratis dari sebuah acara, kantong belanja yang terlalu bagus untuk dibuang, sampai wadah makanan yang jumlah tutup dan badannya sudah tidak pernah cocok.

Satu per satu memang terlihat sepele. Masalahnya baru terasa ketika semuanya tinggal bersama kita selama bertahun-tahun.

Lemari mulai sesak. Laci sulit ditutup. Meja yang baru dibereskan kembali penuh beberapa hari kemudian. Pada titik tertentu, kita sadar bahwa masalahnya mungkin bukan kurangnya tempat penyimpanan.

Barangnya saja yang terlalu banyak.

Di sinilah decluttering untuk pemula bisa menjadi langkah awal. Bukan untuk mengubah rumah menjadi ruangan putih kosong seperti katalog interior, melainkan untuk menyeleksi kembali barang yang memang masih memiliki fungsi dalam kehidupan kita.

Pertanyaannya, mulai dari mana?

Apa Itu Decluttering?

Decluttering adalah proses mengurangi barang yang tidak lagi diperlukan atau tidak lagi memberikan nilai bagi kehidupan sehari-hari.

Prosesnya berbeda dengan sekadar merapikan rumah.

Ketika merapikan, kita bisa saja mengambil sepuluh barang dari atas meja lalu memasukkan semuanya ke dalam lemari. Meja memang terlihat bersih, tetapi jumlah barang yang dimiliki tetap sama.

Decluttering mengajukan pertanyaan yang berbeda: apakah sepuluh barang tadi memang masih perlu disimpan?

Kalau jawabannya hanya empat, enam barang lainnya tidak perlu dicarikan tempat penyimpanan baru.

Barang tersebut bisa dijual, didonasikan, diberikan kepada orang lain, didaur ulang apabila memungkinkan, atau dibuang jika memang sudah tidak layak digunakan.

Itulah sebabnya decluttering bukan sekadar persoalan estetika rumah.

Kita sedang mengambil keputusan.

Dan keputusan inilah yang sering membuat prosesnya terasa lebih melelahkan daripada sekadar menyapu atau mengepel.

Kenapa Decluttering Terasa Sulit Padahal Cuma Mengurangi Barang?

Ambil satu kaus lama dari dalam lemari.

Secara fungsi, kaus tersebut mungkin sudah tidak terlalu bagus. Warnanya pudar dan ukurannya tidak lagi nyaman. Kalau melihat kondisi barangnya saja, keputusan seharusnya mudah.

Namun, kaus tersebut ternyata dibeli ketika liburan bersama teman beberapa tahun lalu.

Mendadak yang kita pegang bukan sekadar kain.

Ada kenangan di dalamnya.

Penelitian mengenai hubungan seseorang dengan benda memang menunjukkan bahwa possessions atau kepemilikan dapat memiliki hubungan erat dengan identitas seseorang. Dalam literatur perilaku konsumen, konsep mengenai possessions sebagai bagian dari diri bahkan telah dibahas sejak lama. (academic.oup.com)

Inilah salah satu alasan decluttering tidak selalu sesederhana pertanyaan “dipakai atau tidak?”

Barang dapat membawa kenangan, rasa bersalah, identitas, bahkan gambaran tentang diri yang kita inginkan.

Sepatu lari yang tidak pernah dipakai mungkin tetap disimpan karena kita masih berharap suatu hari menjadi orang yang rajin berlari.

Blazer formal yang sudah bertahun-tahun tergantung bisa bertahan karena harganya dulu mahal.

Hadiah yang tidak pernah digunakan terasa sulit dilepas karena takut seolah-olah kita tidak menghargai orang yang memberikannya.

Karena itu, decluttering yang realistis sebaiknya tidak dimulai dengan memaksa diri membuang sebanyak mungkin barang.

Mulailah dengan belajar mengambil keputusan.

Decluttering untuk Pemula Sebaiknya Jangan Dimulai dari Seluruh Rumah

Kesalahan yang mudah terjadi adalah bangun pada Sabtu pagi dengan semangat luar biasa lalu memutuskan hari itu seluruh rumah harus selesai.

Semua isi lemari dikeluarkan.

Laci dikosongkan.

Kotak-kotak lama dibuka.

Pakaian menumpuk di kasur.

Tiga jam kemudian energi mulai habis sementara kamar justru terlihat tiga kali lebih berantakan.

Akhirnya barang dimasukkan kembali dengan cepat karena malam nanti kasur harus digunakan untuk tidur.

Alih-alih merasa lega, kita malah kapok.

Untuk pemula, pendekatan yang lebih realistis adalah memperkecil wilayah kerja.

Jangan mulai dari “kamar tidur”.

Mulai dari satu laci.

Jangan mulai dari “dapur”.

Mulai dari satu rak.

Jangan mulai dari “semua pakaian”.

Mulai dari kaus yang digunakan sehari-hari.

Batas yang kecil membuat proses memiliki garis akhir yang jelas. Kita bisa melihat hasilnya dalam waktu relatif singkat tanpa membuat seluruh rumah berubah menjadi lokasi bongkar muat.

Setelah satu area selesai, barulah berpindah ke area berikutnya.

Mulai dari Barang yang Keputusannya Paling Mudah

Ada alasan kita sebaiknya tidak memulai decluttering dari kotak berisi surat cinta lama, foto keluarga, atau barang peninggalan seseorang.

Barang sentimental membutuhkan energi emosional yang jauh lebih besar.

Untuk sesi pertama, pilih sesuatu yang membosankan.

Ya, membosankan justru bagus.

Periksa produk yang sudah kosong di kamar mandi. Lihat isi laci alat tulis. Kumpulkan kaus kaki yang kehilangan pasangannya sejak entah kapan. Periksa wadah makanan yang sudah tidak memiliki tutup.

Keputusan terhadap barang seperti ini biasanya jauh lebih mudah.

Dari sana, kita mulai mengenali proses decluttering tanpa harus langsung menghadapi benda dengan ikatan emosional yang kuat.

Ketika kemampuan mengambil keputusan sudah terlatih, barulah kategori yang lebih sulit bisa disentuh perlahan.

Gunakan Pertanyaan yang Lebih Berguna daripada “Masih Bagus, Kan?”

“Masih bagus” adalah salah satu kalimat yang membuat banyak barang bertahan bertahun-tahun.

Sebuah jaket bisa saja masih bagus.

Masalahnya, kita tidak pernah memakainya.

Mug promosi masih bagus.

Tetapi di rumah sudah ada 17 mug sementara yang rutin digunakan hanya tiga.

Karena itu, kondisi fisik barang sebaiknya bukan satu-satunya pertimbangan.

Coba tanyakan apakah barang tersebut digunakan dalam kehidupan kita sekarang. Kalau tidak, apakah ada kebutuhan realistis untuk menggunakannya dalam waktu dekat?

Perhatikan kata “realistis”.

Bukan skenario bahwa suatu hari kita mungkin membutuhkan enam puluh kantong plastik sekaligus.

Pertanyaan lain yang menarik adalah apakah kita akan membeli barang tersebut lagi jika hari ini melihatnya di toko.

Jika jawabannya tidak, coba cari tahu mengapa kita masih mempertahankannya.

Kadang alasannya valid.

Kadang jawabannya hanya karena barang itu sudah telanjur berada di rumah.

Jangan Terjebak Sunk Cost pada Barang Mahal

Bagian ini biasanya mulai menyakitkan.

Ada pakaian yang harganya mahal tetapi ternyata tidak nyaman. Peralatan dapur yang dibeli karena sedang tren ternyata hanya digunakan dua kali. Ada pula hobi yang membuat kita membeli perlengkapan cukup banyak sebelum akhirnya sadar bahwa hobinya sendiri tidak terlalu disukai.

Barang seperti ini sulit dilepas karena uang sudah dikeluarkan.

Namun, uang tersebut tidak kembali hanya karena barang terus disimpan.

Dalam ekonomi dan pengambilan keputusan dikenal konsep sunk cost, yaitu biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak dapat dipulihkan. Keputusan berikutnya idealnya tidak semata-mata didasarkan pada biaya yang sudah terlanjur terjadi. (britannica.com)

Untuk barang yang masih bernilai, menjualnya kembali bisa menjadi pilihan.

Kalau barangnya berguna tetapi nilai jualnya kecil, memberikannya kepada orang yang membutuhkan mungkin terasa lebih masuk akal.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan rumah sebagai gudang untuk menyimpan rasa bersalah karena pernah salah membeli sesuatu.

Decluttering Pakaian Tanpa Harus Menjadi Minimalis Ekstrem

Lemari pakaian sering menjadi area yang paling menggoda untuk dibereskan.

Kita membuka pintunya setiap hari, sehingga kekacauannya terlihat terus-menerus.

Namun, tidak ada angka sakral mengenai berapa helai pakaian yang seharusnya dimiliki seseorang.

Seseorang yang bekerja menggunakan pakaian formal tentu mempunyai kebutuhan berbeda dengan orang yang bekerja dari rumah. Orang yang rutin berolahraga juga membutuhkan pakaian berbeda dari orang yang tidak memiliki aktivitas tersebut.

Karena itu, jangan mengejar angka.

Periksa apakah pakaian masih muat, nyaman, sesuai dengan aktivitas saat ini, dan benar-benar digunakan.

Ada satu kategori yang menarik: pakaian “nanti kalau…”.

Nanti kalau berat badan berubah.

Nanti kalau ada pesta tertentu.

Nanti kalau tren ini kembali.

Tidak semuanya harus langsung dikeluarkan. Tetapi kalau sebagian besar lemari justru diisi oleh kehidupan hipotetis, mungkin sudah waktunya memberi lebih banyak ruang untuk kehidupan yang sedang dijalani sekarang.

Setelah Pakaian, Pindah ke Kamar Mandi

Kamar mandi sering menjadi tempat yang relatif mudah untuk melakukan decluttering.

Botol kosong kadang masih berdiri di sudut. Ada skincare yang ternyata tidak cocok tetapi terus disimpan. Produk hotel ukuran mini ikut pulang dari liburan lalu menetap selama tiga tahun.

Keluarkan isi satu area penyimpanan dan periksa satu per satu.

Produk kosmetik juga memiliki masa penggunaan setelah dibuka. Di banyak produk terdapat simbol period after opening berupa gambar wadah terbuka dengan angka seperti 6M atau 12M yang menunjukkan periode penggunaan setelah kemasan dibuka. European Commission menjelaskan ketentuan pelabelan tersebut dalam regulasi kosmetik Uni Eropa. (eur-lex.europa.eu)

Untuk obat-obatan, jangan sembarangan membuangnya ke toilet atau wastafel. Cara pembuangan dapat berbeda menurut jenis obat dan aturan setempat. WHO juga memiliki panduan mengenai pengelolaan limbah farmasi yang aman. (who.int)

Jadi, decluttering bukan berarti semua barang yang tidak digunakan langsung masuk tempat sampah.

Cara keluarnya juga perlu dipikirkan.

Dapur Adalah Tempat Barang “Siapa Tahu Berguna” Berkumpul

Ada misteri kecil di banyak dapur: bagaimana wadah makanan berkembang biak sementara tutupnya justru menghilang?

Dapur memang mudah menjadi tempat penyimpanan barang cadangan.

Kita punya spatula favorit, tetapi tetap menyimpan empat spatula lainnya. Ada lima botol minum karena masing-masing didapat dari acara berbeda. Stoples bekas selai disimpan karena bentuknya bagus.

Satu atau dua mungkin berguna.

Masalah dimulai ketika koleksi tersebut mengambil ruang yang sebenarnya dibutuhkan untuk barang sehari-hari.

Untuk melakukan decluttering di dapur, perhatikan barang yang memiliki fungsi sama. Mana yang benar-benar sering digunakan? Mana yang selalu dipilih pertama kali?

Barang favorit memberi petunjuk mengenai apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Jika setiap pagi kita selalu mengambil mug yang sama sementara sebelas mug lainnya hanya menjadi penonton, mungkin jumlahnya dapat dikurangi.

Periksa pula makanan yang sudah melewati tanggal penggunaan atau kualitasnya sudah menurun. Untuk produk pangan, pahami perbedaan informasi tanggal pada kemasan dan ikuti petunjuk penyimpanan dari produsennya.

Tujuannya bukan membuat dapur kosong.

Tujuannya membuat barang yang digunakan lebih mudah ditemukan.

Bagaimana dengan Barang Sentimental?

Setelah kategori mudah mulai berkurang, pada akhirnya kita akan bertemu dengan barang sentimental.

Di sinilah kecepatan decluttering biasanya menurun drastis.

Dan itu tidak masalah.

Foto, surat, hadiah, pakaian tertentu, buku, atau barang peninggalan keluarga tidak perlu dinilai menggunakan standar yang sama dengan wadah makanan tanpa tutup.

Berikan waktu.

Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah menentukan ruang khusus untuk benda sentimental. Misalnya satu kotak atau satu bagian lemari.

Batas ruang membantu kita memilih benda mana yang benar-benar paling berarti tanpa merasa harus menghapus seluruh masa lalu.

Kita juga bisa memotret benda tertentu sebelum melepaskannya apabila yang ingin dipertahankan sebenarnya adalah kenangannya, bukan fungsi fisik barang tersebut.

Namun, jangan memaksakan teknik ini.

Kalau sebuah barang benar-benar berarti dan kita memiliki ruang untuk menyimpannya, menyimpannya bukan kegagalan decluttering.

Tujuan akhirnya bukan memiliki sesedikit mungkin benda.

Barang yang Sudah Dipilih Keluar Jangan Dibiarkan Menginap Berbulan-bulan

Ada fase decluttering yang jarang dibicarakan: tumpukan barang yang sudah diputuskan untuk keluar, tetapi ternyata pindah tempat saja.

Awalnya dari lemari.

Kemudian masuk kardus.

Kardus pindah ke sudut kamar.

Dua bulan kemudian kardus masih berada di sana.

Secara teknis, barang tersebut belum benar-benar keluar dari rumah.

Karena itu, proses decluttering perlu dilanjutkan dengan menentukan jalur keluarnya. Barang yang masih layak dapat diberikan kepada keluarga atau teman, didonasikan melalui organisasi yang menerima kategori barang tersebut, atau dijual.

Barang tertentu bisa didaur ulang jika fasilitas di daerah kita menerimanya.

Sedangkan barang yang sudah rusak dan tidak dapat dimanfaatkan lagi perlu dibuang sesuai jenis limbahnya.

Untuk elektronik, baterai, obat, bahan kimia rumah tangga, dan barang lain yang memerlukan penanganan khusus, cari fasilitas atau panduan pembuangan yang berlaku di daerah masing-masing.

Decluttering yang bertanggung jawab bukan sekadar memindahkan masalah dari rumah kita ke tempat lain.

Jangan Langsung Membeli Organizer

Setelah melihat video transformasi rumah, godaan berikutnya biasanya datang dalam bentuk keranjang rotan, kotak transparan, rak tambahan, label estetik, dan organizer dengan ukuran yang sangat spesifik.

Semuanya terlihat seperti solusi.

Padahal, membeli tempat penyimpanan sebelum melakukan decluttering bisa menghasilkan masalah baru: kita sekarang mempunyai barang yang sama banyaknya plus dua belas kotak baru.

Kurangi barang terlebih dahulu.

Setelah itu, lihat apa yang tersisa.

Barulah kita mengetahui kebutuhan penyimpanan yang sebenarnya.

Mungkin ternyata tidak membutuhkan lemari tambahan. Rak yang sudah ada cukup setelah isinya dikurangi.

Ini juga membantu menghindari siklus ironis ketika kita membeli lebih banyak barang demi mengatur terlalu banyak barang.

Rumah Rapi Tidak Akan Bertahan Kalau Barang Terus Masuk

Setelah beberapa minggu, rumah akhirnya terasa lebih lega.

Laci mudah dibuka.

Meja tidak lagi penuh.

Kemudian paket belanja online mulai berdatangan.

Decluttering sebenarnya hanya menangani barang yang sudah berada di rumah. Kalau pola konsumsi tidak berubah, kekacauan yang sama perlahan dapat kembali.

Karena itu, tahap berikutnya adalah memperhatikan barang yang masuk.

Sebelum membeli sesuatu, beri sedikit jarak antara keinginan dan transaksi.

Apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan? Apakah kita sudah memiliki sesuatu dengan fungsi serupa? Di mana barang tersebut akan disimpan?

Untuk pembelian nonmendesak, menunggu satu atau dua hari juga bisa membantu membedakan keinginan sesaat dengan kebutuhan.

Tidak berarti kita harus berhenti berbelanja.

Kita hanya mulai mempertimbangkan bahwa setiap barang yang dibeli bukan sekadar mengeluarkan uang.

Barang itu juga membutuhkan ruang, perawatan, perhatian, dan pada akhirnya keputusan mengenai apa yang harus dilakukan ketika tidak digunakan lagi.

Apakah Decluttering Bisa Membuat Pikiran Lebih Tenang?

Hubungan antara lingkungan rumah dan kesejahteraan psikologis menarik untuk dibahas, tetapi klaimnya perlu hati-hati.

Rumah rapi bukan obat untuk stres, kecemasan, atau kondisi kesehatan mental.

Meski begitu, beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara persepsi terhadap kondisi rumah dan indikator kesejahteraan.

Sebuah penelitian terhadap pasangan berpenghasilan ganda, misalnya, menemukan bahwa perempuan yang menggambarkan rumahnya menggunakan lebih banyak kata yang mencerminkan kondisi penuh barang atau pekerjaan rumah yang belum selesai menunjukkan pola kortisol diurnal yang kurang sehat dan suasana hati yang lebih depresif sepanjang hari. Penting dicatat bahwa temuan semacam ini menunjukkan hubungan dan tidak berarti kekacauan rumah secara sederhana menjadi penyebab tunggal masalah psikologis. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)

Ada alasan yang lebih sederhana untuk menyukai rumah yang lebih teratur.

Kita lebih mudah menemukan kunci.

Tidak perlu membongkar satu lemari hanya untuk mengambil handuk.

Meja bisa langsung digunakan.

Membersihkan lantai menjadi lebih cepat karena tidak banyak benda yang harus dipindahkan terlebih dahulu.

Manfaat praktis seperti ini mungkin tidak terdengar spektakuler, tetapi justru terasa setiap hari.

Coba Decluttering 15 Menit, Bukan Menunggu Akhir Pekan Kosong

Kita sering menunggu kondisi ideal.

“Nanti kalau ada waktu.”

Masalahnya, akhir pekan kosong itu kadang tidak pernah datang.

Pendekatan yang lebih ringan adalah memasang timer sekitar 15 menit dan memilih satu area kecil.

Satu laci meja.

Satu rak kamar mandi.

Satu bagian lemari.

Ketika waktunya habis, berhenti.

Besok atau beberapa hari kemudian, lanjutkan ke area lain.

Dengan cara ini, decluttering berubah dari proyek besar menjadi kebiasaan kecil.

Setelah beberapa sesi, hasilnya mulai terlihat. Bukan karena satu hari kita berubah menjadi manusia super yang sanggup membereskan seluruh rumah, tetapi karena keputusan-keputusan kecil mulai terkumpul.

Rumah Tidak Harus Kosong untuk Terasa Lega

Ada satu hal yang perlu diingat ketika melihat konten minimalisme di internet: rumah adalah tempat hidup, bukan showroom.

Ada buku yang sedang dibaca di meja.

Ada jaket di dekat pintu.

Ada mainan anak.

Ada gelas kopi yang belum dicuci.

Rumah yang dihuni manusia memang akan memiliki barang.

Karena itu, tujuan decluttering untuk pemula bukan menciptakan ruangan steril atau mengejar jumlah kepemilikan tertentu. Tidak perlu membuang benda yang disukai hanya agar bisa menyebut diri sebagai minimalis.

Yang ingin dicapai jauh lebih sederhana.

Kita ingin mengetahui apa yang dimiliki, menggunakan sebagian besar barang tersebut, dan mempunyai ruang yang cukup untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan nyaman.

Mulailah dari satu laci.

Ambil satu benda.

Tanyakan apakah benda tersebut masih memiliki tempat dalam kehidupan sekarang.

Kalau jawabannya iya, simpan dengan baik.

Kalau jawabannya tidak, biarkan benda itu melanjutkan perjalanannya ke tempat lain.

Besok, lakukan lagi.

Sedikit demi sedikit, rumah mulai berubah. Bukan karena kita berhasil membuang sebanyak mungkin barang, tetapi karena barang yang tersisa akhirnya mempunyai alasan untuk tetap berada di sana.

Referensi

Belk, Russell W. “Possessions and the Extended Self.” Journal of Consumer Research, Oxford Academic.
https://academic.oup.com/jcr/article-abstract/15/2/139/1841428

Encyclopaedia Britannica. “Sunk Cost.”
https://www.britannica.com/money/sunk-cost

Saxbe, Darby E., & Repetti, Rena L. “No Place Like Home: Home Tours Correlate With Daily Patterns of Mood and Cortisol.” Personality and Social Psychology Bulletin. PubMed.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19934011/

European Parliament and Council. “Regulation (EC) No 1223/2009 on Cosmetic Products.” EUR-Lex.
https://eur-lex.europa.eu/eli/reg/2009/1223/oj/eng

World Health Organization. “Safe Management of Pharmaceutical Waste from Health Care Facilities: Global Best Practices.”
https://www.who.int/publications/i/item/9789240106710