Quiet Luxury Ubah Makna Kaya, Kini Bukan Soal Pamer

image 5 Okada Zen

Ringkasan: Kaya dulu identik dengan logo besar dan barang yang gampang dikenali orang lain. Sekarang arahnya berbalik — kualitas bahan, potongan yang rapi, dan ketenangan jadi penanda status baru. Pergeseran ini bukan sekadar gaya berpakaian, tapi cerminan cara orang memikirkan ulang arti kaya itu sendiri.

Apa itu Quiet Luxury?

Detail pakaian berbahan kain kasmir dan linen polos berkualitas tinggi yang mencerminkan quiet luxury.

Quiet luxury adalah gaya hidup yang menunjukkan kemewahan lewat kualitas dan kesederhanaan, bukan lewat logo besar atau harga yang dipamerkan. Barang yang dipilih biasanya polos, minim branding, tapi dibuat dari bahan premium dengan detail yang rapi. Intinya: kaya yang tidak perlu diteriakkan.

Istilah ini sempat meledak di media sosial sekitar 2023, sebagian terdorong oleh serial televisi “Succession” yang menampilkan keluarga superkaya berpakaian sederhana tanpa logo mencolok, seperti dicatat The Fashion Law dan The Business of Fashion.

Mengapa Pergeseran Ini Terjadi?

Pembeli mengamati kualitas jahitan mantel di butik pakaian tanpa melihat label merek.

Selama bertahun-tahun, logo besar adalah cara tercepat menunjukkan status. The Fashion Law mencatat bahwa lebih dari 75 persen konsumen di Amerika Serikat menganggap logo sebagai identitas paling penting dari sebuah brand. Tapi kejenuhan terhadap logo — yang di industri disebut “logo fatigue” — mendorong pembalikan arah ini.

Datanya cukup jelas. Platform grosir digital Joor mencatat, sepanjang awal 2023 peritel di Amerika Utara dan Eropa membeli produk berlogo jauh lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya: turun 22 persen secara global, bahkan turun 43 persen khusus di Amerika Utara dan 16 persen di Eropa, meski jumlah produk berlogo yang ditawarkan brand justru naik. Data dari Trendalytics yang dikutip Business of Fashion menunjukkan pola serupa: penjualan produk dengan logo mencolok di Amerika Utara turun 40 persen sepanjang 2023 dibanding tahun sebelumnya.

Riset akademik juga mendukung pergeseran ini. Sebagaimana dirangkum Popbela, kajian di Journal of Retailing and Consumer Services menunjukkan konsumen kini lebih menghargai nilai intrinsik — kualitas material, craftsmanship, detail produksi — dibanding logo yang mudah dikenali. Sementara penelitian di jurnal Psychology & Marketing (Wiley) mengidentifikasi kelompok “inconspicuous minimalists”: orang yang sengaja memilih barang mewah tanpa logo besar karena mengutamakan mutu di atas kuantitas, dan cenderung memiliki lebih sedikit barang dengan standar lebih tinggi.

Menariknya, pola ini tidak seragam secara global. Joor mencatat peritel di kawasan Asia Pasifik justru membeli 8 persen lebih banyak produk berlogo pada periode yang sama — tanda bahwa “kaya itu tidak pamer” belum tentu berlaku sama di setiap pasar.

Bukan Cuma Soal Fashion — dan Tidak Selamanya Bertahan

Ruang tamu bernuansa tenang dengan material kayu alami dan pencahayaan lembut khas quiet luxury.

Quiet luxury paling terlihat di dunia fashion, tapi maknanya menyentuh cara orang memandang kekayaan secara umum: rumah tanpa dekorasi berlebihan, gaya bicara yang tidak menonjolkan pencapaian, sampai kebiasaan finansial yang tidak diumbar. Media Indonesia RRI melaporkan tren yang berjalan beriringan bernama “loud budgeting” — keterbukaan soal membatasi pengeluaran demi keuangan yang stabil, sejalan dengan kesadaran finansial anak muda yang semakin meningkat.

Tapi seperti tren lain, quiet luxury juga punya siklusnya sendiri. Analis Bank of America menilai pergeseran menuju desain tanpa logo justru menurunkan barrier masuk ke pasar mewah, membuat produk “dupe” atau tiruan murah semakin mudah menyaingi tampilan aslinya — dan ini disebut sebagai salah satu penyebab pelemahan kinerja sejumlah brand mewah pada 2024. Media Fortune IDN bahkan mencatat, pada 2025 tren interior mulai bergeser ke arah “loud luxury” yang lebih berani dan mencolok, tanda bahwa pendulum bisa berbalik arah.

Sementara itu, brand yang konsisten dengan filosofi minimalis-berkualitas justru tetap tumbuh. Brunello Cucinelli — salah satu ikon quiet luxury — melaporkan pendapatan 1,41 miliar euro pada 2025. Hermès mencatat pendapatan 11,2 miliar euro untuk sembilan bulan pertama 2024, naik 14 persen dari periode sama tahun sebelumnya, menurut Business Insider.

Ciri-Ciri Quiet Luxury yang Bisa Dikenali

Pengrajin menjahit tepi tas kulit premium dengan teknik jahit tangan presisi tinggi.
#CiriPenjelasan
1Minim logoBranding disembunyikan atau sangat kecil, kadang hanya blind-stamp
2Material premiumKasmir, wol alpaka, linen halus, kulit asli
3Warna netralKrem, abu-abu, olive, navy, hitam — jarang warna mencolok
4Potongan timelessDesain yang tidak mengikuti tren musiman
5Craftsmanship rapiJahitan dan finishing jadi penanda kualitas, bukan label
6Filosofi “less but better”Sedikit barang, tapi kualitas tinggi dan tahan lama
7Investasi jangka panjangDibeli untuk dipakai bertahun-tahun, bukan sekali musim

Brand yang sering disebut sebagai acuan gaya ini antara lain The Row, Loro Piana, Brunello Cucinelli, dan Bottega Veneta, dengan Hermès sebagai contoh yang tetap kuat meski sudah lama dikenal luas.

Cara Menerapkan Filosofi Quiet Luxury — Langkah Praktis

  1. Audit lemari atau barang yang sudah dimiliki: pisahkan barang yang dibeli karena logo dari yang dibeli karena kualitas dan kenyamanan.
  2. Utamakan bahan, bukan merek: saat membeli, cek komposisi material dan jahitan sebelum melihat label harga atau logo.
  3. Pilih warna netral yang mudah dipadukan: ini memperpanjang usia pakai barang dan mengurangi kebutuhan belanja impulsif.
  4. Kurangi jumlah, naikkan standar: filosofi “less but better” berarti lebih sedikit barang dengan kualitas yang jauh lebih baik.
  5. Terapkan di luar fashion: dari cara bicara, gaya rumah, sampai kebiasaan finansial — quiet luxury adalah cara memandang nilai, bukan sekadar gaya berpakaian.

Baca Juga Bukan Sekadar Tren, Slow Living Kini Jadi Gerakan Komunitas

FAQ — Quiet Luxury

Apa itu quiet luxury?

Quiet luxury adalah gaya hidup yang menunjukkan kemewahan lewat kualitas bahan dan kerapian desain, bukan lewat logo besar atau harga yang dipamerkan.

Apakah quiet luxury sama dengan pelit atau irit?

Tidak. Barang quiet luxury sering kali tetap mahal — bedanya, nilai jualnya ada di kualitas dan daya tahan, bukan di simbol status yang terlihat.

Apakah tren quiet luxury akan bertahan?

Belum tentu selamanya. Analis Bank of America mencatat tren ini justru mempermudah munculnya produk tiruan murah, dan pada 2025 sejumlah pelaku industri mulai melirik kembali gaya “loud luxury” yang lebih mencolok.